Semakin dewasa, semakin aku menyadari bahwa tidak semua hal diciptakan untuk menjadi sama.
Langit dan bumi berbeda.
Matahari dan bulan berbeda.
Laut dan daratan berbeda.
Namun, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi hanya karena perbedaan itu. Justru karena berbeda, mereka mampu menciptakan keseimbangan.
Mungkin demikian pula pria dan wanita.
Suatu malam, Aku merenungkan satu pertanyaan sederhana: mengapa Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk pria?
Tentu tidak ada manusia yang dapat mengetahui hikmah-Nya secara sempurna. Namun setiap kali memikirkannya, aku merasa ada pesan yang sangat indah di balik penciptaan tersebut. Bukan tentang siapa yang lebih unggul atau siapa yang lebih penting, melainkan tentang bagaimana manusia memang diciptakan untuk saling melengkapi.
Di zaman sekarang, banyak orang berbicara tentang kesetaraan seolah-olah pria dan wanita harus menjadi sama dalam segala hal. Padahal menurutku, kesetaraan tidak selalu berarti kesamaan.
Dua hal bisa memiliki nilai yang sama tanpa harus memiliki fungsi yang sama.
Dalam Islam, pria diberikan amanah yang besar. Mereka dibebani tanggung jawab untuk memimpin, menafkahi, melindungi, dan mempertanggungjawabkan keluarganya di hadapan Allah. Jika dipikir-pikir, itu bukan posisi yang ringan.
Menjadi pemimpin bukan berarti memiliki lebih banyak hak. Sering kali justru berarti memiliki lebih banyak kewajiban.
Yang menarik bagiku adalah bagaimana Islam tidak hanya memerintahkan pria untuk memimpin, tetapi juga memerintahkan mereka untuk terus belajar. Kewajiban salat Jumat dan khutbah mingguan, yang tidak dibebankan kepada wanita, terasa seperti pengingat bahwa seseorang tidak bisa memimpin tanpa ilmu.
Seorang pemimpin harus terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus mengingat bahwa kekuasaan tanpa tuntunan hanya akan membawa kerusakan.
Karena kepemimpinan tanpa ilmu akan melahirkan kesombongan.Kepemimpinan tanpa hikmah akan melahirkan penindasan. Dan kepemimpinan tanpa kedekatan kepada Allah akan melahirkan kerusakan.
Maka ketika aku melihat pria, aku tidak melihat sosok yang diberi posisi lebih tinggi. Aku melihat sosok yang diberi beban lebih berat. Mereka dituntut untuk tetap kuat ketika keadaan sulit. Tetap berdiri ketika keluarganya membutuhkan sandaran. Tetap berjalan bahkan ketika lelah.
Namun semakin aku memahami pria, semakin aku menyadari bahwa di balik tuntutan untuk selalu terlihat kuat, mereka juga manusia. Mereka juga lelah. Mereka juga takut. Mereka juga memiliki hari-hari ketika semuanya terasa terlalu berat. Sayangnya, dunia sering kali tidak memberi banyak ruang untuk itu. Sejak kecil, banyak pria diajarkan untuk menahan air mata, menyembunyikan ketakutan, dan terus berjalan apa pun yang terjadi. Mereka belajar mengenakan topeng keperkasaan karena merasa harus menjadi benteng bagi orang-orang yang mereka cintai.
Dan mungkin karena itulah wanita diciptakan. Bukan hanya sebagai seseorang yang perlu dilindungi. Tetapi juga sebagai tempat di mana seorang pria dapat meletakkan topengnya.
Tempat di mana ia tidak harus selalu menjadi yang paling kuat.
Tempat di mana ia bisa mengakui bahwa ia lelah.
Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut kehilangan penghormatan.
Karena bahkan seorang pemimpin pun membutuhkan tempat untuk pulang.
Sebaliknya, sebagai wanita, aku juga menyadari sesuatu. Mengakui bahwa kita ingin ditemani, ingin dilindungi, atau ingin merasa aman bukanlah tanda kelemahan. Justru itu adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.
Di zaman yang memuji kemandirian, terkadang kita merasa harus mampu melakukan semuanya sendirian. Kita merasa harus selalu kuat, selalu tangguh, selalu mampu menghadapi hidup tanpa bantuan siapa pun. Namun hidup dalam mode bertahan Survival Mode terus-menerus juga melelahkan. Tidak ada manusia yang diciptakan untuk memikul seluruh beban hidup seorang diri.
Dan mungkin tidak ada yang salah ketika seorang wanita merindukan seseorang yang membuatnya merasa aman, sebagaimana tidak ada yang salah ketika seorang pria merindukan seseorang yang membuatnya merasa diterima.
Di sinilah aku mulai memahami makna tulang rusuk.
Wanita tidak diciptakan untuk menjadi penonton dalam kehidupan pria. Ia juga bukan aksesori yang mempercantik perjalanan hidupnya. Wanita adalah bagian yang membuat perjuangan memiliki tujuan. Sebab manusia tidak hidup hanya dengan pencapaian. Manusia juga hidup dengan cinta, kehangatan, dan rasa memiliki.
Di balik pria yang bekerja keras setiap hari, sering kali ada seseorang yang ingin ia bahagiakan. Seseorang yang ingin ia lindungi. Seseorang yang ingin ia banggakan. Seseorang yang membuat semua lelah itu terasa tidak sia-sia.
Pria membangun rumah. Wanita menjadikannya tempat pulang.
Pria membawa kekuatan untuk memikul tanggung jawab. Wanita membawa kehangatan yang memberi makna pada tanggung jawab itu.
Pria merindukan seseorang yang bisa ia lindungi. Wanita merindukan seseorang yang membuatnya merasa aman.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah alasan mengapa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Bukan karena wanita lebih rendah dari pria. Bukan pula karena pria lebih penting dari wanita.
Melainkan karena sejak awal manusia memang tidak diciptakan untuk berjalan sendirian.
Keduanya berasal dari satu kesatuan.
Keduanya memiliki peran yang berbeda.
Keduanya membawa kekuatan yang berbeda.
Dan justru karena perbedaan itulah mereka dapat saling melengkapi.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang siapa yang paling kuat. Tetapi tentang menemukan seseorang yang membuat kita tidak harus selalu kuat.
Seseorang yang menjadi rumah ketika dunia terasa terlalu bising.
Seseorang yang mengingatkan bahwa semua perjuangan ini memiliki makna.
Mungkin itulah makna paling indah dari sebuah tulang rusuk:
Bukan tentang siapa yang memimpin dan siapa yang mengikuti, tetapi tentang dua manusia yang diciptakan untuk saling menemukan jalan pulang.
0 Komentar