Book Review: The Tokyo Zodiac Murder

February 18, 2015

Rating:
 
The Tokyo Zodiac Murder bercerita mengenai pembunuhan yang terjadi di Jepang pada tahun 1936. "Zodiac" serasa familiar dengan nama ini ya, ini adalah nama yang digunakan oleh pembunuhan yang terjadi di Amerika sekitar akhir tahun 1969 sampai awal 1970 dan tidak diketahui siapa pembunuhnya hingga sekarang, itu yang menyebabkan film 'Zodiak' memiliki akhir cerita yang terkesan 'unrelieved'. Back to the topic, buku ini menceritakan pembunuhan yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan 'Zodiac' di negara barat. Zodiac dalam buku ini diangkat karena pembunuhan mengalihkan perhatian dengan surat menggunakan ilmu astrologi dan pembunuhan berantai yang diduga berdasar pada zodiac korban.
 
Sinopsis singkatnya adalah sebagai berikut.
Pada tahun 1936, saat itu musim dingin dan turun salju terjadi pembunuhan seorang seniman yang dipukuli hingga tewas dibalik pintu studionya yang terkunci. D
i laci seniman tersebut terdapat sebuah surat wasiat mengenai rencananya untuk menciptakan Azoth (Sang Wanita Sempurna) yang dirancang terdiri dari gabungan tubuh dari anak maupun keponakannya yang semuanya adalah perempuan. Setelah itu, pembunuhan kedua terjadi pada anak tiri seniman yang diduga diperkosa setelah dibunuh karena terdapat sperma di alat kelamin anak tiri-nya tersebut, hal ini sangat mengecoh penyidik bahwa pembunuhnya adalah laki-laki. Pembunuhan sesungguhnya atau bisa dibilang pembantaian terjadi sekitar 5-7 hari sesudah pembunuhan kedua, ini adalah bahan yang digunakan untuk pembuatan Azoth. Setelah dibunuh dan dimutilasi, 6 anak dan keponakan seniman tersebut dikubur ditempat yang berbeda-beda dengan kedalaman yang berbeda pula.
Mengapa pembunuhan ini susah untuk dilacak? 1. Surat ditemukan di kamar seniman yang mati terlebih dulu sebelum pembantaian korban Azoth (yang merupakan cita-cita sang seniman), 2. Semua orang yang dicurigai memiliki alibi, 3. Ada beberapa distraction yang menyudutkan bahwa pembunuh dilakukan oleh seorang pria, 4. Jika mencurigai anak dan keponakan yang terbunuh, cukup membingungkan karena mereka semua terbunuh dan mayat mereka dikuburkan sesuai dengan elemen Zodiak mereka, 5. Korban tidak memiliki teman maupun lawan yang cukup motif untuk melakukan hal tersebut. Akhirnya pembunuh menjebak istri dari seniman tersebut dengan menaruh tali yang digunakan dalam pembunuhan sehingga sang istri ditangkap (polisi cukup muak karena kasus ini tidak terjawab, tampaknya mereka memaksa sang istri untuk mengakui pembunuhan seniman tersebut). Case closed, sang istri mendapatkan vonis hukuman mati dan telah mati di penjara.
40 tahun kemudian, 1979, terdapat bukti baru yang dapat memecahkan sebagian kecil misteri tersebut. Itu adalah sebuah surat terakhir dari seorang polisi yang terlibat dalam pembunuhan itu, bukan, bukan dia yang membunuh, tapi ya, dia terlibat. Dia lah yang mengantarkan mayat-mayat tersebut dan menguburkan sesuai dengan instruksi pembunuh. Dia dijebak. Bagaimana dia dijebak? Pada suatu malam dia digoda oleh seorang wanita kesepian yang dia duga adalah korban pembunuhan kedua, mereka melakukan hubungan intim, dan keesokan harinya datang lahberita kematian wanita tersebut. Di situ lah pembunuh menjebak polisi tersebut untuk menjadi bagian pada kasus pembunuhan berantai ini. Dengan berbekal bukti-bukti kepolisian masa lampau, bukti baru, ilusi, dan logika, seorang detektif muda Kiyoshi Mitarai, yang juga seorang astrolog dan peramal nasib, dapat mengetahui pembunuh dari Pembunuhan berantai tersebut.
 
Opini.
Great and stunning enough. Sebetulnya kasus yang diangkat adalah kasus sederhana dengan motif yang sederhana pula. Pada jaman sekarang tentu pembunuhan seperti ini dapat diketahui dengan mudah.
Untuk catatan, pada tahun 1936, golongan darah hanya ada ABO (tidak ada +/- apalagi DNA), cetakan gambar buruk, tata budaya yang masih sangat tradisional, dan beberapa hal lain. Hal ini lah yang menyebabkan kasus ini terasa sempurna pada tahun tersebut. Penulisan dibuku ini cukup menarik dan membuat penasaran untuk dibaca, bahasa yang digunakan juga tidak terlalu berat, mungkin hanya pada bagian penjelasan mengenai astrologi, dan sejenisnya. Kita disugukan gambaran peta, chart, dan berbagai ilustrasi yang membuat kisah pembunuhan, magic, dan ilusi yang terdapat pada cerita ini tergabung dengan cukup baik dan menjadikannya sebagai sebuah cerita tragedi yang sulit terpecahkan. Penggambaran karakter detektif Mitarai yang dingin, cerdas, dan bertanggung jawab pada omongannya membuat saya menikmati membaca buku tersebut dengan membayangkan sosok detektif yang sangat tipe saya (hahaha!). Selain itu , buku ini dibuat seakan-akan itu adalah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Kita akan dibuat penasaran dan menduga-duga siapa pembunuhnya dengan penjabaran bukti yang diberikan oleh penulis, sampai akhirnya kita mengetahui suatu kenyataan yang ternyata sangat sederhana membuat saya merasa cukup bodoh untuk tidak mengetahuinya sejak awal. Well, nice book for wasting time.

No comments:

Powered by Blogger.