"Ketika ribuan turun ke jalan, bukan hanya tuntutan yang mereka bawa tetapi juga harapan akan didengar. Namun dalam sunyi yang menyusul, publik mulai bertanya: apakah empati telah hilang dari politik kita?"
Indonesia baru saja melewati gelombang demo dua hari yang cukup panas. Mahasiswa, ojol, dan masyarakat sipil turun ke jalan, menyuarakan keresahan yang sudah lama terpendam. Mirisnya, masyarakat demo ke DPR tapi bukannya DPR mempersiapkan ruang untuk dialog, justru mereka WFH di rumah masing-masing. Sungguh, legislatif yang tone deaf.
Tapi yang lebih menarik dari aksi itu bukan hanya tuntutannya—melainkan respons pemerintah yang... minim.
Padahal, kalau presiden mau tampil dan bilang:
“Selamat pagi masyarakat Indonesia. Terima kasih atas aspirasi yang disampaikan dalam aksi dua hari lalu. Pemerintah mengundang perwakilan mahasiswa dan masyarakat untuk berdialog secara terbuka dan disiarkan live bersama DPR.”
Itu bukan cuma gesture. Itu pendingin sosial. Itu jembatan antara negara dan rakyat. Dan itu, sayangnya, tidak terjadi.
🧩 SBY: Sang Jembatan yang Strategis
Di masa SBY, rakyat bisa bikin meme muka sapi, sindiran lagu, bahkan kritik tajam di media. Tapi beliau tetap hadir. Tidak marah. Tidak membalas. Tidak menciduk. Justru tampil di konferensi pers, menyampaikan empati, dan memberi ruang dialog.
SBY bukan hanya jenderal militer—beliau adalah arsitek strategi. Kariernya banyak di staf perencanaan, bukan pasukan tempur. Gaya komunikasinya terstruktur, tenang, dan penuh kalkulasi. Bahkan saat dikritik, beliau tetap tampil sebagai figur yang “melindungi,” bukan “melawan.”
Dan yang paling penting: rakyat bebas berpendapat, tapi kondisi tetap stabil. Karena stabilitas bukan soal represi, tapi soal legitimasi.
🧠Jokowi: Dekat Tapi Kadang Kabur
Jokowi punya gaya komunikasi yang khas: santai, merakyat, dan penuh gestur simbolik. Tapi di balik itu, sering muncul pernyataan seperti “Ya ndak tau, kok tanya saya?”—yang bikin publik bingung: “Lho, bukannya Anda yang paling tahu?”
Respons terhadap kritik cenderung defensif. Minim konferensi pers reflektif. Dan saat demo besar terjadi, tidak ada pernyataan langsung dari presiden. Padahal, masyarakat Indonesia itu nggak demanding secara teknis. Mereka cuma mau tahu bahwa mereka dihargai.
⚔️ Prabowo: Dari Gladiator ke Figur Istana
Dulu saya cukup percaya pada Prabowo. Sosoknya tegas, berani, dan punya aura pemimpin lapangan yang siap bertarung demi bangsa. Tapi sejak ia masuk kabinet Jokowi, ada sesuatu yang berubah. Bukan cuma posisi politiknya, tapi juga karakter kepemimpinannya. Bahkan, Saya selalu memilih beliau, kecuali dipemilihan 2024.
Saya mulai melihat bahwa Prabowo bukan lagi figur oposisi yang lantang. Ia menjadi bagian dari sistem yang dulu ia kritik. Dan dari situ, saya sadar: mungkin yang ia cari bukan perubahan, tapi kekuasaan.
Gaya komunikasinya pun bergeser. Dulu emosional dan konfrontatif, sekarang lebih santai dan humoris. Tapi tetap terkesan militeristik—lebih banyak bicara soal stabilitas dan loyalitas, bukan empati dan dialog.
Dan karena pergeseran itu, di pemilihan terakhir saya tidak memilih Prabowo. Bukan karena saya membenci, tapi karena karakter yang saya cari sebagai pemimpin sudah tidak saya temukan lagi dalam dirinya.
🔮 Kalau Gaya Ini Terus Berlanjut...
Lima tahun ke depan, kita bisa lihat:
- Demo jadi ritual, bukan dialog.
- Generasi muda makin sinis, makin menjauh dari politik formal.
- Kritik dianggap ancaman, bukan vitamin demokrasi.
Tapi kalau gaya komunikasi diubah—kalau pemimpin mau bilang “Saya tidak punya semua jawaban, tapi saya hadir”—maka Indonesia bisa punya harapan baru.
0 Komentar