Sebuah Cerita Pendek

October 20, 2013




Senja menambahkan lamunanku tentangmu. Seseorang yang mengisi hidupku beberapa bulan ini dan telah hilang tanpa sepatah kata pun. Mungkin kepergianmu berdasar atas perlakuanku padamu. Ah mungkin juga tidak. Aku tahu kamu tidak marah, kesal, atau berniat balas dendam, hanya saja aku bukan lagi prioritas dalam hidupmu. Dan aku pikir, aku tidak punya hak ataupun kuasa untuk mengatur prioritas hidupmu sehingga aku memilih untuk ikhlas menjalani hari tanpamu.

**

Wow, apa ini? Kamu telah bersama yang lain. Hal ini justru meyakinkanku bahwa pilihan perlakuanku kepada kamu adalah hal yang tepat. Walaupun jujur, setiap bangunku dan tidurku selalu ada bayanganmu, andai-andai tentangmu, ataupun kisah lama yang kita rajut walau tanpa akhir yang jelas. Aku dan kamu adalah manusia yang berbeda, entah bisa bersatu atau tidak. Aku menuntutmu banyak perubahan untuk menjadi seperti yang aku mau dan itu sungguh egois. Bersamamu terlalu banyak pengecualian yang harus aku buat dan aku tidak sanggup. Masih banyak manusia lain diluar sana yang akan memujamu, dibandingkan kamu yang menghabiskan waktumu untuk mencintaiku tanpa kepastian. Mungkin kita memang harus hidup secara terpisah. Ini pilihanmu, begitu pula dengan aku.

**

Ini bukan cerita cinta. Ini hanya sebuah cerita pendek mengenai sebuah kehidupan yang marak dengan pilihan. Semua orang memiliki hak untuk memilih dan setiap orang harus menghormati pilihan itu. Terkadang kita berpikir, "apakah pilihan yang kita ambil telah benar?". Tidak ada yang tahu. Just choose and move with it. Don't ever think about "how if i was....", keep moving forward. The regret will hurting you more.

Powered by Blogger.