Prabowo Subianto

December 17, 2013
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto. Familiar dengan nama tersebut? Ya dia adalah mantan jenderal kopassus yang diduga sebagai dalang kasus penculikan dan kerusuhan 1998 dan calon presiden RI 2014 dari partai Gerindra.

Gue bukan kader gerindra ataupun tim sukses dari Prabowo, tapi entah dari tahun 2009 gue terkesima setiap liat Prabowo. Mungkin karena faktor SBY yang lemah lembut membuat mata dan hati gue menjadi terbuka ketika diberikan sosok seperti Prabowo. Seseorang yang tegas dan gamblang dalam menjelaskan apa yang dia inginkan. Gue selalu suka melihat pidatonya yang jarang menggunakan teks dan selalu bersemangat, benar-benar menggugah. Walaupun gue bilang dari 2009 gue udah terkesima, gue sedikit kecewa ketika dia menjadi cawapres dan akhirnya gue pun memilih SBY – Boediono.

Beberapa bulan setelah SBY terpilih lagi, mulai muncul kasus-kasus korupsi yang semakin lama semakin janggal. Gue gak mau spekulasi mengenai teori gue tentang korupsi-korupsi di Indonesia yang penuh dengan skenario & ‘Big Man’, nanti takut dibilang fitnah hehe. Korupsi yang merajalela membuat gue agak jenuh ngeliat pemerintah yang sekarang dan gak sabar menanti pemilu 2014, dan gue udah berniat memilih Prabowo Subianto dari 2010 silam. Entah kenapa gue bisa seyakin itu.

Walaupun gue terkesan gelap mata, gue tetep mau tau sejarah tentang kasus 1998. Semakin gue cari, semakin gue simpatik sama Prabowo. Dari kasus 1998 itu, terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Terlalu banyak spekulasi dari banyak pihak. Dari berbagai artikel yang gue baca, baik dalam maupun luar, gue memiliki kesimpulan bahwa semua pihak itu memiliki kesalahan dengan porsi yang berbeda. Prabowo yang dituduh waktu itu menurut gue emang dia ya salah, walaupun itu adalah tugas negara. Wiranto sebagai atasannya ya menurut gue juga salah. Propaganda di istana setelah lengser pun penuh dengan teka teki. Anggapan pengkhiatan Prabowo kepada Soeharto pun juga kurang beralasan menurut gue. Akhirnya gue pun memutuskan tetap memilih Prabowo dibandingkan Wiranto. Kenapa? Karena Wiranto disetiap berita yang gue baca merasa tidak salah sama sekali, kesannya lepas tangan. Pemimpin yang buruk itu bukan pemimpin yang salah mengambil keputusan, tetapi tidak berbuat apa-apa ketika ada sesuatu yang harus dicegah. Apalagi sebenernya Wiranto memiliki kewenangan yang lebih daripada Prabowo. Prabowo yang mau menerima keputusan sepihak bahwa dia harus diturunkan membuat gue justru semakin kagum karena Beliau mau pasang badan sebagai pihak yang disalahkan. Mana ada sih orang kayak itu jaman sekarang? No offense hahaha. Dan menurut gue kemungkinan dia korupsi itu lumayan kecil. Kenapa? Dia udah sangat mapan dari segi finansial, anaknya satu dan udah sukses di bidang fashion yang jauh dari bau politik, selain itu justru ada bagusnya mungkin gak punya istri supaya tetep idealis hahaha. Ya semoga ada deh ibu negaranya tapi harus yang nasionalis juga pastinya.

Lambat laun muncul Jokowi dengan kesederhanaannya dan lain sebagainya. Banyak orang simpatik dengan beliau, tapi gue tetep lebih simpatik ke Prabowo. Gue kurang suka dengan gaya pidato yang sangat merakyat tapi kurang menggugah, selain itu Jakarta masih biasa-biasa aja kayaknya sekarang, masih macet dan banjir juga, tapi transportasi udah mulai dibenahi sih, terus diperbaiki ya Pak. Maksud gue dia adalah seorang pemimpin, dimana pemimpin itu memiliki porsi sendiri. Menurut gue pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang bisa membawa bawahannya mengikuti dia sehingga gue pikir lebih baik seorang presiden itu adalah sosok yang berwibawa tapi tetap kelihatan sederhana tanpa mengurangi kewibawaannya tersebut. Blusukan itu bagus, tapi kalo keseringan kayaknya bukan kadarnya presiden, masa presiden kerjanya blusukan terus? Ya rakyat memang senang tapi menurut gue kurang efektif deh. Justru yang perlu diefektifkan adalah kader-kader dibawah presiden. Seharusnya untuk mengetahui aspirasi rakyat, digunakanlah partai dan anak-anak partai untuk menghimpun aspirasi, yang nantinya aspirasi tersebut harus di evaluasi. Pilihan lain adalah DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Justru harusnya mereka yang merakyat, namanya aja Dewan Perwakilan Rakyat. Harusnya DPR punya social media atau website buat menghimpun aspirasi masyarakat atau memberikan hasil kerja mereka. Habis kadang undang-undang yang dibahas di DPR justru yang menurut gue rada kurang penting, jadi rada bingung dia ngeliat aspirasi rakyat tuh darimana? LSM yang rata-rata dibiayai asing? Anyway gue lupa tepatnya tanggal dan tahun berapa, tapi pegawai negeri gak dibolehin jadi anggota DPR, itu artinya dosen, professor di universitas negeri juga udah gak bisa jadi DPR. Nah hal itu yang mengawali kenapa kaum cendikiawan udah mulai menipis di DPR (selain kudu ngeluarin duit super banyak buat jadi caleg), mungkin ini juga yang jadi penyebab pembahasan undang-undang rada kurang berbobot karena menurut saya pribadi orang-orang yang ada di dalam DPR memiliki kapabilitas yang kurang terlebih untuk membuat undang-undang, pendapat aja sih buat evaluasi. Bikin undang-undang itu susah, semua kata harus memiliki arti yang jelas, kalo pernah bikin AD/ART buat suatu kepengurusan pasti ngerti betapa susahnya membentuk redaksional untuk suatu peraturan.

Gue nulis gini gak nyuruh lo semua milih Prabowo sih, gue hanya ingin mengutarakan pendapat gue tentang capres 2014. Actually setelah gue pikir-pikir, rasa simpatik gue ke Prabowo ternyata juga dipengaruhi karena Prabowo mirip sama bokap gue, dari potongan gerak geriknya, sikapnya, dan umurnya hahaha. Akhir kata, siapa pun nanti yang jadi presiden, semoga bisa membawa Indonesia lebih baik dan kembali menjadi negara yang kuat! Supaya gak ada lagi yang dicuri dari Indonesia. Kalo saya sih pilih Prabowo Subianto, kalo kamu? :)


NB: Tulisan ini pure dari author kalo rada terkesan subjektif ya memang begitulah adanya :p

No comments:

Powered by Blogger.