Sumbangan untuk Satinah, Relevan?

March 29, 2014

Save Satinah?

Akhir-akhir ini lagi gencar berita tentang TKI yang mau dihukum pancung, yaitu Satinah. Usut punya usut, sebenernya kasus ini udah terjadi dari tahun 2009, tapi pemerintah baru mulai bergerak tahun 2011. Pertanyaannya Satinah ini TKI legal atau ilegal ya?
Jadi kronologinya menurut lintas.me adalah sebagai berikut.
Adonan Roti 
Kisah Satinah di negeri Arab bermula di tahun 2006. Ia berkelana mengadu nasib melalui PT Djasmin Harapan Abadi, penyalur TKI. Di Saudi, wanita asal Semarang itu ditempatkan di Provinsi Al Qassim untuk ‘menghamba’ di keluarga Nura Al Gharib. Satinah mengaku kerap disiksa majikannya. Suatu hari di tahun 2007, ia melawan. Berlokasi di dapur, Nura tiba-tiba membenturkan kepala Satinah ke tembok. Reflek defensif, ia memukul tungkuk Nura dengan adonan roti. Sang majikan pingsan dan akhirnya meninggal setelah koma di Rumah Sakit.
Hukuman Mati
Tak bersalah, Satinah yakinkan diri ke kantor polisi. Ia mengakui perbuatannya namun didakwa dua hal. Selain pembunuhan, diduga dirinya mengambil uang majikan sebesar 37.970 riyal. Selang tahun 2009 – 2010, peradilan berlangsung. Alhasil, atas dakwaan pembunuhan berencana, awalnya Satinah direncanakan dihukum mati Agustus 2011.
Pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Lewat sejumlah pendekatan mereka meminta pihak keluarga agar sudi memaafkan. Pihak Arab Saudi juga diminta untuk membujuk keluarga Nura. Pembayaran uang darah atau diyat dilayangkan sebagai kompensasi hukuman pancung.
Rp 21 Miliar
Tak menyerah lakukan segala cara, akhirnya pendekatan pemerintah berbuah hasil. Campur tangan mereka buat Satinah mendapat perpanjangan waktu hingga tiga kali. Sejak tahun 2011, sudah diundur mulai Desember 2011, Desember 2012, dan Juni 2013. Akhirnya, keluarga korban setuju dengan pembayaran diyat.
Namun, permintaan itu juga tidak sedikit. Meski pihak keluarga Nura sempat menurunkan hingga tiga kali, jumlah Rp 21 miliar cukup besar. Awalnya, keluarga korban meminta 15 juta riyal (Rp 45 miliar) yang kemudian turun jadi 10 juta riyal (Rp 30 miliar).
Terakhir, uang diyat turun menjadi 7 juta riyal atau Rp 21 miliar. Tanggal 3 April 2014 adalah tenggat waktu terakhir batas pembayaran diyat. Jika tidak, Satinah bisa celaka.
Save Satinah
Pemerintah telah berupaya maksimal dalam kasus ini. Soal uang diyat, mereka telah anggarkan Rp 12 miliar. Kurang Rp 9 miliar, sejumlah aksi dan gerakan penggalangan dana muncul. Dari ini, maka lahirlah Save Satinah.
Di jagat maya, tagar #SaveSatinah berkibar. Di darat, aksi galang dana menggelora. Di sejumlah kota-kota di tanah air, gerakan tersebut terus dilakukan.
Jadi sebenernya kasus ini udah terjadi dari 2009 silam, tetapi pemerintah tidak mengetahui. Awal diketahuinya itu adalah ketika seorang TKI lain menemani majikannya untuk menjenguk seseorang di penjara, dari situ baru dia mengetahui bahwa Satinah ada di penjara. Pada pertemuan ini Satinah berharap untuk TKI tersebut membantunya dengan mengabari keluarganya. Awal kasus, Satinah tidak diperkenankan menggunakan pengacara. TKI tersebut sudah melapor kepada menlu tetapi pada saat itu belum ada tanggapan dan awal perkara sesungguhnya jumlah yang dibayar tidak mencapai 21 miliar, hanya sekitar 3 miliar, tetapi karena Satinah dibiarkan sebatang kara akhirnya kasusnya berlarut-larut dan menyebabkan pembengkakan permintaan dan tuduhan yang bertambah sehingga jadilah biaya permintaan sebesar 21 miliar. Mungkin sebaiknya pemerintah lebih aware terhadap permasalahan seperti ini, jika sudah terlambat baru deh heboh, padahal sebenarnya jika dari awal diurus tidak akan seberat ini perkaranya. Tetapi apakah tidak lebih baik 21 miliar itu untuk menanggulangi anak kurang gizi yang sewaktu-waktu bisa meninggal kapan saja? Biaya itu bisa digunakan untuk membiayai sangat banyak orang yang membutuhkan. Inikah solidaritas yang dimaksudkan di Indonesia? Menyantuni pembunuh dan pencuri agar bebas dari hukumannya? Walau (katanya) tidak sengaja.

Disini gue mau melihat jangan hanya dari satu sisi, coba kita lihat dua sisi bagaimana kelakuan TKI di Arab Saudi. Apakah sangat baik seperti malaikat? Tidak juga. Banyak dari mereka yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa dengan baik, baik bahasa indonesia, apalagi bahasa inggris. Tidak dapat menggunakan peralatan modern seperti setrika, mesin cuci, dsb. Sungguh sulit mengajari seseorang yang tidak bisa berkomunikasi dengan kita. Jadi balai pelatihan beserta sertifikatnya itu adalah formalitas aja, mereka tidak melakukan pelatihan tersebut. Dari cerita seseorang yang tinggal di arab saudi dan pernah menggunakan TKI sebagai pembantu, banyak dari mereka yang menggunakan sihir mulai dari memberikan darah menstruasi pada masakan, air pipis mereka, dsb. Mereka yang mau mengambil pembantu TKW harus mengeluarkan kocek kurang lebih 28 juta rupiah untuk tebusan dan bahkan bisa lebih. Wah gimana gak kesel ya, sudah bayar mahal ternyata kemampuan mereka tidak sesuai ekspektasi. Cerita lain bahkan ada prostitusi yang dilakoni para TKW ilegal, tarifnya hanya sekitar 120 ribu rupiah. Jadi kalo semisal ada yang pulang bilang dihamili majikan bisa saja dia berbohong. Ada juga cerita seorang TKW yang mencekik anak majikannya, karena hal itu ayahnya terburu-buru pulang dan terjadi kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya 2 orang ayah. Ironis. Well gak semua TKI itu jahat dan gak semua majikan jahat. Mungkin MoU antara pemerintah arab saudi dengan indonesia harus diperjelas supaya gak salah kaprah.

Anyway, sebelumnya juga ada TKI yang mau dihukum pancung tetapi ditebus oleh pemerintah dan diberikan santunan oleh salah satu stasiun TV. Berkat santunan tersebut, TKI yang bernama Darsem menjadi milyarder, nilai bantuan mencapai 1.4 milyar rupiah. Tidak heran dia bakal jadi hura-hura, mendadak kaya. Bisa dibilang OKB, beli emas, beli ini, beli itu, tapi nyumbang mesjid cuma 500 ribu. Padahal dia dibantu berkat warga kampungnya juga. Menurut warga dia berubah jadi sombong dan gak mau bergaul dengan warga yang lain. Sewaktu di wawancara dia bilang "ini kan duit saya mau saya pakai apa juga bukan masalah kan. saya sudah malas keluar rumah, males denger omongan orang" kurang lebih gitu kata-katanya. Ya memang tidak salah sih, tapi waktu awal di kasih dia bilang kalo dia mau nyumbang panti asuhan, perbaikan jalan, dsb. Ujungnya dia bilang perbaikan jalan itu ya tugasnya pemerintah, tapi gak habis pikir aja nyumbang mesjid 500 ribu dari total santunan 1.4 milyar dan dia bangga. Well semoga aja dia beneran udah nyumbang tapi ceritanya gak mau bilang-bilang biar gak riya. Aamiin.

Jadi apakah masih logis ntuk menggelontorkan biaya 21 milyar rupiah untuk seorang TKI Indonesia yang kemungkinan ilegal dan melakukan pembunuhan, serta dituduh mencuri pula? Ya mungkin memang pembelaan diri, tapi ada baiknya untuk menurunkan hukumannya saja, gimana caranya tapi ya setau gue di Arab Saudi kalo membunuh ya hukumannya bunuh juga, ya selain itu membayar permintaan ganti rugi (terserah keluarga tersebut) dan meminta maaf kepada keluarga. Bagaimana pun nyawa seseorang itu tidak hanya bernilai 21 milyar dan Allah benar-benar mengecam hal tersebut. 

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya, serta menyediakan azab yang besar baginya [QS. An-Nisaa’ : 93].

Jangan sampai kisah Darsem, Sang TKI Milyarder terulang lagi. Bikin dosa juga, dari niat baiknya nyumbang, tetiba jadi mengecam gegara dipake yang ngga-ngga hehe. Jadi gak ikhlas deh sumbangannya. Semoga Satinah benar-benar tidak membunuh dengan sengaja dan memang hak-nya untuk membunuh karena membela diri, kalau tidak apabila dia di hukum mati pun dia akan masuk neraka dan katanya sih tobatnya tidak diterima. Para politisi, Caleg, dan Capres juga jangan menggunakan momen ini untuk 'sok' sosial ya sebagai bentuk kampanye terselubung! Kita berdoa saja supaya diberikan jalan terbaik oleh Allah SWT kepada Satinah. Apapun akan terjadi jika memang ajal sudah menjemput. Sekian.

No comments:

Powered by Blogger.